Lament of Time

The Story of Eclipse

Anytime Kala’s head eats Surya, people see a solar eclipse, and anytime Kala’s head eats Luna, people see a lunar eclipse.

The ongoing war between Kala and human race takes its toll in the human side this time. The impact was disastrous. The storms, bad weather and flood happen everywhere. Kala also successfully kidnapped Luna, the Moon Goddess in the battle. He makes a threat before he disappears, that if human being trying to get Luna back, Kala promises to set the extinction of the rest of human race.

There are three god and goddess to run the time of the world. But with the absence of Luna, there are only two gods left. This situation creates disharmony in the continuance time of the world. Luna is the goddess of night and is equipped with the power of singing and dancing. Surya is the god of the day and is armed with a jug of the magic water of life. Whoever drinks the water will live forever. Virya is the god of life and equipped with sangkakala, a trumpet to raise the dead.

Unbeknownst by people, Kala is actually an unwanted son of King Uruga. As the king of all god and goddess, King cannot be with anyone, but eventually he fell in love with the River goddess and impregnate the River goddess. So when Kala was born to the world, he inherited god’s power, although at the end he was float down to the River of Time in order to vanish. But Kala survived the ordeal and growing up as a giant mutant who lives in the cave near the giant waterfall of the river. Later on it was found that the waterfall is the reincarnation of the tears of River goddess as an act of redemption in abandoning her baby.

So the plan to set the time of the world back again is rolled out. Surya, Vira and the rest of the human sail down the river.

Eventually they found Luna and Kala. But instead of fighting and war, feeling having bonded with Luna in the exile, Kala agrees to release her with a condition that she and the group able to perform the best music and dance in the world. The group agrees. The night was becoming alive full of singing and dancing.

Feeling exhausted and thirsty, in the middle of party, Kala grabs the jug of water of life that Surya left on the table. He drinks it. Surya was stunned and immediately thinks the consequences that Kala might be live forever. So when the water only goes down to Kala’s throat, quickly he grabs the sword and beheaded Kala.


Lesung is a traditional tool in the processing of paddy into rice. The function of this tool to separate grain leather (chaff, straw) of rice mechanically. This mortar is made of wood shaped like a small boat. In mythology, Lesung is the reincarnation of Kala’s body that he left behind.


Kala’s head fell down and separated from his body. However, because the head part has drunk the water of life, it remains alive. The eyes begin to open and the head start flying looking for Surya and Luna. Seeing that incident Surya and Luna run away. The chasing between those three is becoming forever occurrence. Anytime Kala’s head eats Sole, people see a solar eclipse, and anytime Kala’s head eats Luna, people see a lunar eclipse. While the eclipse is happening, in the world Vira blows the trumpet and people hit the lesung – a reincarnation of Kala’s body that he left behind – to help Surya or Luna comes back alive again.

Peristiwa kejar-mengejar itu sampai kini terjadi terus-menerus. Apabila kepala Kala berhasil memakan Surya, maka terjadilah Gerhana Matahari. Apabila kepala Kala berhasil memakan Luna, maka terjadilah Gerhana Bulan. Pada saat gerhana terjadi, di dunia, Wirya meniup terompet dan orang-orang di memukul lesung jelmaan dari badan Kala.

Di akhir perseteruan antara Kala dan manusia kali ini, akhirnya manusia mengalamai kekalahan Akibatnya bencana terjadi dimana-mana. Badai, cuaca buruk, dan banjir besar melanda dunia. Kala juga berhasil menculik Luna, Sang Dewi Bulan sebagai sandera dalam perseteruan itu. Sebelum menghilang, Kala mengancam apabila manusia berusaha menyelamatkan Luna kembali ke dunia maka dunia akan dirusaknya hingga punah.

 

Saat itu ada tiga dewa dewi yang mengatur berputarnya waktu di dunia, yakni Surya, Luna, dan Wirya. Maka tanpa kehadiran Luna terjadilah ketidakharmonisan putaran waktu di dunia yang mengakibatkan terjadinya banyak bencana di dunia.

Luna adalah Dewi Bulan. Sering juga Ia disebut sebagai Dewi Malam. Luna mempunyai kelebihan berupa kepandaian menari dan menyanyi. Surya adalah Dewa Siang. Ia menyinari jagat raya karena mempunyai kelebihan berupa kendi yang berisi air kehidupan. Barang siapa meminum air itu, maka yang bersangkutan akan hidup abadi selamanya. Wirya adalah Dewa Kehidupan. Ia dilengkapi dengan terompet sangkakala. Ia bisa menghidupkan orang yang sudah mati dengan meniup terompet itu.

Tanpa diketahui oleh manusia, Kala sebenarnya adalah bayi yang tidak dikehendaki oleh Raja Uruga, Raja para dewa dan dewi. Sebagai Raja Semua Dewa ia tidak diperkenankan untuk hidup dengan siapapun. Namun pada suatu hari ia jatuh cinta dengan Dewi Air dan menghamilinya. Dan akhirnya lahirlah Kala. Ketika Kala lahir di dunia, sebagai keturunan Raja Uruga, maka Kala mewarisi kekuatan dewa. Walaupun demikian, Kala harus dibuang. Maka Kala dibuang dengan cara dilarung di sungai Kehidupan.

Kala selamat dari cobaan pelarungan itu. Ia terdampar di muara sungai dan hidup di gua di balik air terjun. Kala bertahan hidup dengan memakan sisa-sisa sampah yang dibuang secara sia-sia oleh manusia dari hulu sungai. Karena itu, lama kelamaan ia tumbuh menjadi seorang raksasa mutant. Dalam masa itu, karena kesedihan yang melanda, Dewi Air menceburkan diri ke sungai dan menjelma menjadi air terjun. Lewat air terjun yang jatuh itu, Dewi Air menuturkan jati diri Kala sebenarnya, hingga Kala cukup dewasa dan kuat untuk membalas dendam dengan cara mengacaukan keseimbangan alam di dunia.

Alkisah, rencana untuk menyelamatkan Luna pun dilaksanakan. Surya, Wirya, dan sisa-sisa manusia berlayar mengarungi sungai menuju ke muara.

Akhirnya mereka bertemu dengan Kala. Namun, ternyata ada perkembangan baru. Dalam pengasingan, sebagai sandera, Luna mendengar penuturan Kala tentang jati diri sebenarnya dan mengapa ia kerap menimbulkan kekacauan di dunia. Semuanya ternyata bukan merupakan hal yang bersifat hitam putih belaka. Akhirnya tumbuh simpati di hati Luna.

Maka ketika Luna bertemu Surya dan Wirya, ia menuturkan semua kejadian selama ia menjadi sandera. Luna pun akhirnya menyampaikan usul damai kepada Kala bahwa Kala akan diakui sebagai bagian dari manusia, dan disamping menempuh segala cara lewat perang dan bencana, Luna akan mempersembahkan rangkaian tari dan nyanyi terindah di dunia. Kala pun menyetujui usul itu. Maka, malam itu berubah menjadi pesta perayaan dengan tarian dan nyanyian.

Di tengah-tengah pesta itu Kala merasa lelah dan haus. Melihat kendi berisi air di atas meja, tanpa berpikir panjang ia mengambil dan meneguknya, padahal kendi itu adalah kendi air kehidupan milik Surya. Surya tertegun melihat hal itu. Ia berpikir, apabila Kala meminumnya, maka ia akan hidup terus sebagai raksasa mutant yang mengganggu manusia. Maka melihat hal itu, Surya menghunus pedang dan memenggal kepala Kala.

Kepala Kala berdebum jatuh terguling ke bumi terpisah dari badannya. Namun, karena kepala Kala telah meminum air kehidupan, maka kepala Kala tetap hidup, sementara badannya terbujur kaku. Matanya mula-mula berkejap-kejap dan kepala itu terbang memburu Surya. Surya berlari menyambar Luna dan mereka melarikan diri, sementara Kala tetap memburunya. Suasana menjadi kacau.

Peristiwa kejar-mengejar itu sampai kini terjadi terus-menerus. Apabila kepala Kala berhasil memakan Surya, maka terjadilah Gerhana Matahari. Apabila kepala Kala berhasil memakan Luna, maka terjadilah Gerhana Bulan. Pada saat gerhana terjadi, di dunia, Wirya meniup terompet dan orang-orang di memukul lesung jelmaan dari badan Kala, untuk membantu Surya atau Luna hidup kembali.

Repertoire – Sajian

1. L’home Qui Cascade (A figure Behind The Waterfalls)

There’s a giant shadow moving behind the waterfalls. He is Kala. Once in awhile his guttural sound crossed the waterfalls sound, full of sadness and loneliness. Suddenly there is a female figure trying to escape. She is Luna, the moon goddess that was kidnapped by Kala.

 

Interlude – Lament of Time

There are three god and goddess to run the time of the world. But with the absence of Luna, there are only two gods left. This situation creates disharmony in the continuance time of the world.

 

2. Lament of Time
In the impact of the disharmony, disasters happen everywhere.  The forest burning, huge tsunami and waves, and people die everywhere.

 

3:  Awakening
To see people dies everywhere before their time, Wirya the god of Life mourns. He then blows the trumpet of life, and all the dead rise and awake. But they are half-life, because the god of moon is still being kidnapped.

 

4. The Burial and The Drifting
This is a flashback scene to tell the story of who is Kala, the unwanted baby who were drifted in the river but alive and revenge to disrupt the world by disturbing the existence of the moon and the sun.

   

5. Pesisir
We back to the current time.In the Gerajakan Beach, Banyuwangi, the half-life group stranded in and starts building the life by reconstructing the time again. There is second, minute, and hour that have to be developed and rearrange in order. Rehana is one of the members of the group.

 

7. Banyu Wangi
Life begins for the half-life. However it is not strong enough to get the time back. They still need to have weapon by learning mantra from the tradition and culture from Banyuwangi. In this repertoire, they will learn the language, the singing, and the dancing.

 

8. a. Singing: Rehana
8. b. Language: Mocoan
This is a traditional poetry from Banyuwangi
8.c. Dance: Typical dance movement from Banyuwangi
8.d. Performance: Singing and Dancing Gerajakan. This is an ode to the beach Gerajakan in Banyuwangi where they are stranded

 

9. The Warrior
Now the group is strong ready to get the time back lead by Wirya and Surya. They begin to hunt for Kala.

 

10. Head Off
Finally Kala meet with the warrior. Face to face they fight. In one occasion Kala able to steal the water of life and drink it. But Wirya is stronger. Being helped by the warrior He able to cut the head of Kala off

  

11. Eclipse
Upon Kala losing his head, there’s eclipse in the world – a moon and sun eclipse. It’s the head of Kala being able to swallow Luna and Surya.

 

12: Lesung
Lesung is a celebration in the world to bring back Surya and Luna from the head of Kala that swallows them

1.Bayangan Di Balik Air Terjun
Terlihat sosok bayangan di balik air terjun. Dia adalah Kala. Sesekali suaranya seperti guntur menyeruak diantara gemuruh suara air terjun, penuh dengan rasa kesedihan dan kesepian. Tiba – tiba ada sosok perempuan yang berusaha melarikan diri. Ia adalah Luna, dewi bulan yang diculik Kala
 

Interlude – Tembang Waktu
Ada tiga dewa-dewi yang mengatur perputaran waktu. Tetapi dengan terculiknya Luna, hanya ada dua dewa. Situasi ini menciptakan suasana yang tidak harmonis bagi berlangsungnya perputaran waktu di dunia.

 

2.Tembang Waktu
Akibat dari ketidakseimbangan itu adalah terjadinya malapetaka dimana-mana. Hutan terbakar, gelombang besar dan manusia meninggal dimana-mana.

 

3. Bangkit
Melihat banyak manusia meninggal dimana-mana sebelum waktunya, Wirya, dewa kehidupan, menjadi berduka. Ia kemudian meniup sangkakala, yang membuat mereka hidup lagi. Namun mereka hanya setengah hidup, karena dewi bulan masih terculik.

 

4. Kubur dan Larung
Adegan ini merupakan kilas balik, menceritakan siapa sebenarnya Kala, seorang bayi yang tidak dikehendaki untuk lahir di dunia yang kemudian dilarung di sungai namun akhirnya selamat. Ia kemudian berjanji untuk merusak dunia dengan cara menganggu keberadaan bulan dan matahari

 

5. Pesisir
Kita kembali ke masa kini.Di pantai Gerajakan Banyuwangi, sekelompok manusia yang dihidupkan lagi itu mulai membangun kehidupan lagi dengan cara membangun waktu kembali. Ada detik, menit, dan jam yang perlu disusun kembali. Rehana adalah salah satu anggita dari kelompok itu.

 

7. Banyu Wangi
Kehidupan mulai bisa berjalan bagi kelompok itu. Namun mereka belum begitu kuat untuk merebut waktu. Mereka masih memerlukan senjata dengan cara mempelajari mantra yang terdapat pada tradisi dan budaya Banyuwangi. Di dalam repertoire ini mereka belajar lewat bahasa, nyanyian dan tarian.

8.a. Nyanyian: Rehana
8.b. Bahasa: Mocoan. Mocoan adalah puisi tradisional Banyuwangi
8.c. Tarian: Tipikal gerak tari Banyuwangi
8.d. Pentas: Tari dan Nyanyi tentang Pantai Gerajakan. Bagian ini merupakan ode untuk pantai dimana mereka terdampar.
 

9. Prajurit
Kelompok manusia itu akhirnya kuat sudah untuk maju berperang merebut waktu dipimpin Wirya dan Surya. Mereka mulai berbaris mencari Kala.

 

10. Terpenggal
Akhirnya Kala bertemu dengan kelompok prajurit itu. Mereka bertempur. Di satu kesempatan, Kala berhasil mencuri air kehidupan milik Surya dan meminumnya. Tetapi Wirya lebih kuat. Ditolong oleh kelompok prajurit, akhirnya Wirya berhasil memotong kepala Kala

 

11. Gerhana
Begitu kepala Kala terpenggal, gerhana pun terjadi  – gerhana matahari dan bulan. Gerhana itu merupakan pertanda dimana kepala Kala berhasil memakan Luna atau Surya

 

12. Lesung
Lesung merupkan perayaan di dunia untuk melepaskan Surya atau Luna pada saat Kala berhasil menelan mereka.

BeebsStory