Time

Yesterday was something that did not exist; tomorrow is something that does not exist. But if today exists, then time is an eternity; and if today is called as time, then time must pass continuously and occurs in eternity. In conclusion, time exists because of its tendency to not exist.

Time is such an abiding theme in conversations about philosophy, despite the fact that the final conclusion often runs into an impasse. It is because time is an essential and universal concept in one’s life journey. Time is also a relative concept in nature, where if time exists, it does so because it depends on the self-awareness (conscious mind) of the individual.

In neuroanatomical study, it’s a known a component in the human brain called striatum. This is the place where one can feel and understand the concept of time. It records and accumulates in self-consciousness whenever one starts doing something or completes something.
1*) Michael Brooks, Physics (Quercus Books, The Big Questions, 2010)

Humans are able to understand and measure the concept of time through the aid of clocks and watches, for example. But once humans do not have access to the means of such technology, their self-awareness of time begins to become chaotic. In 1960 a French geologist Michael Siffre conducted an experiment. He took off his watch and spent 60 days in the darkness of a caves. At the end of the experiment certain periods proved that Siffre’s perception of time became dispersed. In one example, an activity that he perceived he spent just over an hour doing, was in reality a task that he was carrying out for over five hours.
2*) Michael Brooks, Physics (Quercus Books, The Big Questions, 2010)

People often feel that time goes so quickly at busy times, and that time passes slowly when they are relaxed or not doing any activity. This difference in perception of the passage of time happens due to the awareness of one’s self. In such situations, the perception of time depends on whether he or she is busy or not.  The perception of time is a complex discussion, and there is nothing simple about finding the answer to such a seemingly easy question: what is time?  In 350 BC, Aristotle wrote a work entitled Physics. This work is not a lesson in physics as it is known in the modern era, but rather a philosophical work in existentialism. In Book IV he tries to unravel the question about time with rhetoric: “First,” he says, “does time belong to the class of things that exist or to that of things that do not exist?” According to Aristotle, time is a constant attribute of anything that moves relative to the movement of another object, but it does not actually exist as a stand-alone attribute.

The question about time is also parsed by a monk and scholar St. Augustine de Hippo through his work entitled Confession. In Book XI de Hippo analyses the properties of time in relation to the concept of God. According to de Hippo, time tends to be subjective, and if anything, is only present in one’s mind in a temporal and spatial sense. Furthermore, he described that time has three sections; although one would does not find an answer to the question of whether so-called time exists, however, he postulates that if there is nothing passed then there is no yesterday; if there is nothing coming, then there is no tomorrow; and if something does not exist now there is no today.
St. Augustine’s Conception of Time Author(s): Herman Hausheer. The Philosophical Review, Vol. 46, No. 5 (Sep., 1937), pp. 50.
Yesterday was something that did not exist; tomorrow is something that does not exist. But if today exists, then time is an eternity; and if today is called as time, then time must pass continuously and occurs in eternity. In conclusion, time exists because of its tendency to not exist.

Waktu

Kemarin adalah sesuatu yang tidak ada; esok adalah sesuatu yang belum ada. Dan apabila saat ini ada, maka waktu adalah suatu kekekalan; artinya, apabila saat ini kau sebut waktu, maka saat ini harus lewat dan berlalu terus menerus dan terjadi dalam kekekalan. Maka, waktu hanya akan ada karena waktu itu tidak ada

Waktu  merupakan tema yang tidak kunjung habis dibicarakan di dalam diskusi filsafat, walaupun simpulan akhir di dalam pembicaraan tentang waktu itu sering  menemukan jalan buntu.  Bisa jadi karena waktu merupakan suatu konsep yang bersifat esensial dan universal dalam perjalanan hidup manusia di manapun,  meskipun waktu adalah suatu konsep yang bersifat relative, yakni tergantung pada kesadaran diri (conscious mind) setiap orang yang terjadi pada saat itu.

Di dalam fisiology  dikenal suatu jaringan di otak yang bernama striatum yang merupakan tempat dimana seseorang bisa merasakan dan mengerti akan konsep waktu. Di situlah bersemayamnya pencatatan dan akumulasi kesadaran diri saat seseorang mulai melakukan sesuatu dan menyelesaikannya.  1*) Michael Brooks, Physics (Quercus Books, The Big Questions, 2010)

Manusia  bisa  mengerti dan merasakan tentang konsep waktu, lewat bantuan jam dinding misalnya.  Namun begitu manusia tidak mendapatkan akses terhadap alat penghitung waktu, maka kesadaran diri mereka terhadap waktu akan mulai kacau.

Di tahun 1960 seorang geologist Prancis, Michael Siffre melakukan percobaan. Ia menanggalkan jam tangan dan memasuki kegelapan di suatu gua selama 60 hari. Di akhir percobaan terbukti bahwa persepsi Siffre terhadap waktu mulai buyar. Misalnya, saat ia mempunyai persepsi bahwa ia menghabiskan waktu satu jam, tetapi ternyata ia tercatat  menghabiskan waktu selama empat atau lima jam. 2*) Michael Brooks, Physics (Quercus Books, The Big Questions, 2010)

Kita juga sering merasakan waktu berjalan begitu cepat di saat kita sibuk, tetapi waktu terasa berlalu dengan lamban ketika kita sedang santai atau tidak melakukan pekerjaan.  Perbedaan persepsi tentang berjalannya waktu itu terjadi karena persepsi tentang waktu tergantung dari , atau relative terhadap kesadaran diri seseorang. Dalam situasi tersebut, persepsi tentang waktu  tergantung pada kondisi apakah yang bersangkutan sedang sibuk atau tidak.

Sedemikian peliknya persepsi tentang waktu tersebut, namun tidak sepelik untuk menjawab pertanyaan sederhana: apakah waktu itu?

Di tahun 350 SM, Aristoteles  menulis suatu karya pelajaran (treaties) yang berjudul Physics (Fisika). Karya Aristoteles tersebut bukan merupakan pelajaran ilmu fisika seperti yang dikenal di era modern sekarang ini, melainkan merupakan karya filsafat bertema existentialisme. Dalam buku IV ia mencoba mengurai jawaban tentang waktu dengan melakukan  retorika : “Pertama, apakah waktu itu tergolong pada sesuatu yang ada atau sesuatu yang tidak ada?” Menurut Aristoteles, waktu adalah atribut constant dari sesuatu yang bergerak relative terhadap gerakan benda tersebut namun tidak hadir sebagai atribut yang berdiri sendiri.

Persoalan tentang waktu tersebut juga diurai oleh biarawan dan cendekiawan  St. Augustine de Hippo lewat karya Confession di buku ke XI.  De Hippo melakukan analisis tentang dan sifat-sifat waktu dalam kaitannya dengan konsep Tuhan.

Menurut de Hippo, waktu cenderung bersifat subjektif, dan jika ada, hanya terdapat di dalam pikiran seseorang dan bersifat temporal dan spasial belaka. Selanjutnya ia  menguraikan pernyataan tersebut dengan gagasan umum bahwa waktu memiliki tiga bagian;

Walaupun seseorang tidak akan menemukan jawaban terhadap pertanyaan apakah yang disebut waktu itu, tetapi apabila tidak ada sesuatu yang melintas maka tidak ada kemarin; apabila tidak ada sesuatu yang datang, maka tidak ada esok; dan sesuatu itu tidak ada apabila tidak ada saat ini.*3)

Kemarin adalah sesuatu yang tidak ada; esok adalah sesuatu yang belum ada. Dan apabila saat ini ada, maka waktu adalah suatu kekekalan; penjelasannya adalah, apabila saat ini disebut waktu, maka saat ini harus lewat  dan berlalu terus menerus dan terjadi dalam kekekalan. Simpulannya, waktu hanya akan ada karena kecenderungannya untuk tidak ada (berwujud). *4)

*3) *4) St. Augustine’s Conception of Time Author(s): Herman Hausheer. The Philosophical Review, Vol. 46, No. 5 (Sep., 1937), pp. 50

}
BeebsRationale