Changes

Because there is one thing that has not changed about time within its existence in human concsiousness, and that is, time is about change.

From the explanation above, we see that discussions about time are a constant theme in the realm of philosophy. Of course, the same discussion has been happening in the field of science, religion, art, and sport.  There are many spectacular theories that trying to explain time such as Albert Einstein’s theory of relativity. Yet still the question of time remains an open question that deserves further contemplation. Outside of those various explanations, the existence of time is an inherent human attribute that is a product of and a key to our consciousness.

Because of this fact, time is often considered as a mere human illusion.  That said, if time is an illusion, it is at least an extremely useful illusion. Because there is one thing that has not changed about time within its existence in human concsiousness, and that is, time is about change.  Over time people change. Through time people can have memories. Through time people have hope – an attribute that can be a landmark change in the life of a human being.

Such changes exist in the mythology of Java and Bali, where time is symbolized by the existence of Batara Kala (Sanskrit word). Batara Kala is also named as the creator of light and the earth who devours unlucky people. He is related to Hindu concept of Kala, or time. In mythology, he causes eclipses by trying to eat the Sun or the Moon.  In traditional Javanese mythology, Batara Kala is regarded as the god of time and destruction. So to prevent misfortune, especially for children who were born in a “less fortunate” time and who will become the prey of Batara Kala , they need to hold  a ceremony called ruwatanor slametan.

Perubahan

Karena ada satu hal yang tidak berubah semenjak eksistensi waktu menjadi pertanyaan manusia, yakni waktu adalah persoalan tentang perubahan

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembicaraan tentang waktu dalam khasanah filsafat sudah dilakukan sekian lama. Tentu saja pembicaraan yang sama terjadi di dalam lingkup science, agama, seni, olah-raga, dll.  Banyak teori spektakuler yang mencoba menjelaskan tentang waktu seperti dikemukakan Albert Einstein. Namun sampai detik ini, pertanyaan tentang waktu masih merupakan suatu pertanyaan terbuka yang pantas untuk direnungkan.

Di luar berbagai penjelasan tentang waktu tersebut, eksistensi waktu merupakan atribut yang melekat pada manusia yang tersimpan secara relative pada kesadaran diri manusia. Karena itu bisa jadi waktu merupakan suatu ilusi manusia belaka.

Meskipun demikian, apabila waktu adalah suatu ilusi, paling tidak, waktu merupakan ilusi yang berguna. Karena ada satu hal yang tidak berubah semenjak eksistensi waktu menjadi pertanyaan manusia, yakni waktu adalah perubahan. Lewat waktu manusia berubah. Lewat waktu manusia bisa mempunyai kenangan. Lewat waktu manusia mempunyai harapan – suatu atribut yang bisa menjadi tonggak perubahan seorang manusia.

Perubahan tersebut di dalam mitologi Jawa dan Bali disimbolisasikan dengan eksistensi Batara Kala. Kala (Sanskrit: काल, IPA: [kɑːˈlə]) berarti waktu. Batara Kala adalah dewa pencipta cahaya dan bumi, berbentuk raksasa yang gemar memakan anak-anak.  Batara Kala adalah penyebab gerhana dengan memakan matahari atau bulan lalu memuntahkannya.

Dalam mitology tradisional Jawa  Batara Kala dianggap sebagai dewa waktu dan kehancuran. Maka untuk mencegah kemalangan , terutama bagi anak-anak yang lahir  di hari yang ” kurang beruntung ” yang nantinya akan menjadi mangsa Batara Kala maka perlu diadakan upacara ruwatan atau slametan.

Air Terjun Jatuh Ke Palung merupakan karya kiasan yang dilandasi oleh filosofi  waktu dan perubahan tersebut di atas dengan narasi tentang sekelompok orang yang tercerai-berai dan terseret oleh sungai waktu dalam usaha mencari tempat baru.

BeebsChanges